Ternyata Inilah 5 Penyebab Anak Tertutup Pada Orangtua

Waktu Baca: 6 menitRabu, 29 Mei 2019 08:00 WIB
Penyebab Anak Tertutup Pada Orang Tua
Sumber: pexels

Pahamilah, anak yang beranjak dewasa tak hanya mengalami perubahan fisik, namun juga sikap. Sifat ceria anak bisa saja tiba-tiba menghilang dan anak berubah menjadi pendiam. Kadangkala perubahan ini terjadi secara ekstrim, meski lebih sering terjadi pelan-pelan. Anak bisa saja masih terlihat ceria, namun tak lagi seterbuka dulu. Ia terlihat seperti punya dunianya sendiri, atau malah menjadi lebih terbuka dengan teman sebayanya.

Kurang terbukanya anak ini terkadang malah bisa menimbulkan kekhawatiran pada orangtua. Namun, janganlah hanya beranggapan bahwa mungkin hal ini terjadi karena memang sedang masanya. Bisa jadi kesalahannya ada pada Moms dan Dads sebagai orangtua. Kira-kira apa ya sebabnya? Berikut kami sajikan lima penyebab anak tertutup pada orangtua beserta tips menghadapi remaja berkepribadian tertutup! Siap-siap catat ya, HappyFams!

1. Bila Anak Tertutup, Bisa Jadi Ia Punya Tipe Kepribadian Introvert

Bila Anak Tertutup, Bisa Jadi Ia Punya Tipe Kepribadian Introvert
Sumber: Pexels.com/Pragyan Bezbaruah

Pribadi introvert umunya lebih pendiam dan self-centered dibandingkan dengan tipe kepribadian lainnya, yakni ekstrovert.Tipe kepribadian introvert seringkali dicitrakan sebagai orang yang sedikit bicara, sedikit interaksi, cenderung antisosial, egois, dan cerdas. Parahnya, anggapan ini melahirkan persepsi yang buruk mengenai pribadi introvert, seakan-akan introvert adalah orang yang dinomorduakan dalam pergaulan. Padahal, belum tentu lho!

Ada beberapa cara menghadapi remaja introvert. Pertama, seorang introvert memiliki kecenderungan tinggi untuk memilih lingkungan bicaranya. Seorang introvert akan memilih mengungkapkan dirinya yang sesungguhnya pada orang yang dipercaya. Secara dasar, sifat yang bersemayam dalam diri seorang introvert adalah rasa malu yang tinggi. Orang yang pemalu tidak akan suka jika ia dipotong saat mengutarakan pendapatnya karena sedikitnya kesempatan mereka untuk berani dan mendapatkan kepercayaan diri dalam mengungkapkan pendapatnya.

Jika pendapatnya dipotong, ia akan semakin sulit bahkan tak mau lagi mengungkapkan pendapatnya karena merasa tidak dihargai. Ia akan menarik diri karena ia merasa lingkungan ini dapat "membunuhnya". Cara terbaik menghadapi remaja introvert adalah menyediakan telinga dan menjadi pendengar yang baik bagi pendapat dan masalahnya. Tahan diri Moms dan Dads, jangan potong ucapannya. Dengarkan hingga selesai, barulah berikan pendapat setelahnya.

Usahakan komunikasi yang terjalin berjalan dua arah, yang tentunya itu adalah salah satu cara membangun komunikasi efektif pada remaja. Sesungguhnya hal ini tidak hanya berlaku jika Moms dan Dads ingin mengatasi remaja introvert saja. Ini dapat diterapkan bahkan pada anak berkepribadian ekstrovert. Akan tetapi pada pribadi introvert, perkara "mendengarkan dan didengarkan" menjadi lebih penting.

2. Kita Terlalu Sibuk Sehingga Jarang Mengajak Ia Berbicara

kita terlalu sibuk sehingga mengabaikan orang lainSumber: Pexels.com/Rawpixel.com

Remaja adalah sosok yang memiliki semangat dan kemampuan belajar yang tinggi. Karena tingginya kedua hal tersebut, remaja mulai memiliki kemampuan untuk mengonstruksi pendapatnya sendiri. Pendapat dan ingatan mengenai pengalaman mereka kadang begitu meluap-luap sehingga mereka butuh teman berbicara. Sekuat apapun pengaruh teman, kebanyakan remaja masih memosisikan orangtuanya sebagai teman bercerita.

Akan tetapi orangtua kadang terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk mendengarkan anak. Malah, saat anak mulai bercerita, kita menyuruhnya pergi karena dianggap akan mengganggu pekerjaan. Remaja dapat menganggap perlakuan ini sebagai bentuk penolakan dan penjatuhan harga dirinya lho, HappyFams. Maka dari itu, sang remaja akan merasa tidak dihargai dan memilih berbicara kepada orang yang menghargainya seperti teman.

Bila ingin mendapatkan kembali kepercayaan anak, mulailah dengan menanyainya hal-hal kecil, berlanjut ke diskusi, hingga membuat jadwal khusus untuk hangout dengannya baik di dalam rumah atau keluar rumah. Dengan terlaksananya perlakuan tersebut, ia dapat merasakan bahwa dirinya berharga, HappyFams. Memberikan sedikit waktu bersama remaja dapat meningkatkan relasi emosi positif dan kepercayaan antara remaja dan orangtua.

3. Kurangnya Afeksi Kepada Anak

orangtua kurang memberikan afeksi pada anak
Sumber: Pexels.com/Pixabay

Afeksi adalah keterkaitan emisi atau perasaan pada anggota keluarga, baik secara negatif maupun positif. Afeksi terbaik yang harus ditunjukkan adalah afeksi positif. Afeksi jenis ini berisi hubungan yang hangat, memiliki kasih sayang dan sensitivitas. Orangtua dapat menjaganya dengan melakukan skinship pada anak. Walaupun kebanyakan anak usia puber mulai tidak nyaman dengan hal ini, tapi memberikan sedikit pelukan dan ciuman akan membuat sang anak memahami bahwa dirinya sangat berarti. Berikan juga pujian bagi anak seusai ia berpendapat atau berkarya sehingga ia lebih termotivasi untuk meningkatkan performa kerjanya.

4. Sifat Otoriter Orangtua Dan Ketidakbebasan Anak Mengambil Keputusan

Remaja Tertutup Sifat Otoriter Orangtua
Sumber: Pexels.com/Osman Alyaz

Sikap otoriter lahir dari sifat overprotektif yang berkembang menjadi posesif. Kedua sifat ini dapat menjadi penghalang bagi anak untuk berkembang. Pasalnya anak remaja sedang mengalami perkembangan otak menjadi manusia dewasa. Ada banyak hal yang harus ia pelajari selama remaja untuk menjadi orang dewasa yang baik. Salah satunya adalah berpendapat dan menjalin relasi dengan orang lain.

Orangtua overprotektif seringkali melarang tanpa mengenal karakter teman sang anak remaja. Akibatnya anak dapat merasakan stres. Walau terlihat patuh, akan tetapi di dalam hatinya, ia dapat menjadi pemberontak dan tertutup karena keinginannya tidak didengar. Selain itu, pendapatnya seringkali dipotong serta dipaksakan mengikuti pendapat orang tua. Padahal remaja hanya butuh kepercayaan dari orangtua untuk mengaktualisasikan diri.

5. Orangtua Membocorkan Rahasia Anak

orangtua membocorkan rahasia anak pada orang lain
Sumber: Unsplash.com/Mimi Thian

Sebagai orang yang lebih dewasa, Moms dan Dads sebaiknya menjaga rahasia yang telah diungkapkan oleh buah hati. Hal ini juga dimaksudkan agar Moms dan Dads mendapatkan kepercayaan dan anak dapat lebih terbuka. Kadangkala saat para orangtua bertemu sesama orangtua lainnya, ada kecenderungan untuk membicarakan tentang anak, terutama jika anak memiliki suatu kelebihan.

Nah, di saat inilah biasanya orangtua "tidak sengaja" membeberkan rahasia anak. Padahal membocorkan rahasia anak membuat remaja berkurang kepercayaannya pada orangtua, mengakibatkan remaja menjadi pendiam karena krisis kepercayaan pada diri remaja. Lebih parah lagi, bisa-bisa ia justru berbohong karena tidak ingin orangtua tahu rahasianya. Menjaga kepercayaan anak adalah trik utama menghadapi remaja yang suka berbohong.

Demikianlah tips menghadapi remaja pendiam dan tertutup dari kami. Nah, apakah sudah bisa menjawab teka-teki Moms dan Dads terkait perubahan sifat sang buah hati? Moms dan Dads juga bisa berbagi tips lainnya di kolom komentar. Semoga menginspirasi ya, HappyFams!

Bagikan Informasi Bermanfaat Ini!
Apa Komentar Anda Mengenai "Ternyata Inilah 5 Penyebab Anak Tertutup Pada Orangtua"
related post
7 Kebutuhan Nutrisi Ibu Menyusui Ini, Dapat Berpengaruh Pada Gizi Bayi

Untuk Moms setelah melahirkan adalah saat yang paling tepat untuk memberikan ASI kepada sang buah ... Lanjut Baca

5 Posisi Tidur Yang Baik Untuk Ibu Hamil Muda Sampai Hamil Tua

Memperhatikan posisi tidur ibu hamil sangat penting ketika Moms sedang mengandung. Menjalani masa kehamilan adalah ... Lanjut Baca

Begini Lho Curhatan Anak Pertama, Anak Rantau Sampai Anak Broken Home

Curhatan anak menjadi salah satu hal yang sebaiknya mendapat perhatian khusus dari para orang tua. ... Lanjut Baca