Plus Minus Pendidikan Berbasis Asrama Vs Peran Pendidikan Orang Tua

Waktu Baca: 3 menitSelasa, 02 Februari 2021 05:15 WIB
pendidikan berbasis asrama
Sumber: nu.or.id

Pendidikan merupakan modal penting baik anak-anak untuk dapat menghadapi masa depan. Sejak kecil anak-anak diberikan pendidikan formal dari tahap PAUD, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, sampai Sekolah Tingkat Atas dan dididik olah guru-guru di sekolah. Adapula sekolah berbasis asrama seperti pesantren, maupun sekolah asrama Katolik di Indonesia yang mewajibkan seorang anak untuk menetap dalam waktu tertentu di tempat terpisah dari orang tua.

Tentunya ada nilai plus dan minusnya ketika anak disekolahkan dengan berbasis asrama. Semuanya kembali ke kebutuhan dan tujuan orangtua untuk memberikan bekal ilmu serta modal di masa depan.

Namun tidak ada institusi apapun yang dapat menggantikan peran orangtua dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Baik itu sekolah, asrama, pesantren, universitas dan lain-lain. Hal ini yang menjadi catatan penting bagi para orangtua yang ingin mengirim putra-putrinya belajar di institusi berbasis asrama. Seperti pesantren misalnya. Institusi berbasis asrama akan relevan membantu (bukan menggantikan) pendidikan orangtua.

Hal dasar yang perlu diperhatikan oleh orangtua bila ingin menetapkan pilihan bahwa anak untuk belajar di pesantren dan tidak menggantikan pendidikan orang tua:

  1. Anak dikirim ke Institusi tersebut saat sudah siap belajar mandiri. Sekurang-kurangnya pada masa setelah baligh agar ia mendapatkan basic pendidikan yang baik dari orangtua pada masa peralihan kondisi fisik dan psikis secara besar-besaran (pubertas). Sayangnya hari ini para orangtua berlomba-lomba lebih dulu memasukkan anaknya ke lembaga pesantren saat dimana harusnya mereka dekat dengan orangtua (fase thufulah & hadhanah). Saat masih SD misalnya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana pedihnya hati seorang anak kecil berpisah dengan orangtua saat usianya masih 6-7 tahun.
  2. Tidak ada gap dan perbedaan secara tajam dalam metode pengasuhan antara pesantren dengan orangtua. Misalnya di asrama anak diajarkan disiplin shalat lima waktu, sedangkan orangtuanya di rumah tidak shalat. Bila seperti ini anak akan lelah berdinamika menghadapi orangtuanya sendiri.
  3. Orangtua harus sering bertatapmuka dan memeluk anaknya. Jangan sampai melupakan bonding. Di asrama anak tidak mendapatkan pelukan siapapun kecuali pelukan teman-temannya. Teman-teman mereka tidak akan dapat menggantikan posisi orangtua. Guru/Ustadz/Kiai tidak dapat menggantikan posisi orangtuanya. Banyak siswa yang hilang bonding dengan orangtua karena jarang sekali dijenguk saat masih nyantri di pesantren. Institusi pesantrenpun kerap menganjurkan para orangtua untuk tidak sering menjenguk anaknya dengan argumen agar anak mandiri dan tidak cengeng. Namun bila hal ini dilakukan secara total justru akan menihilkan peran orangtua. Akan muncul masalah baru bila kebutuhan emosional anak tidak dipenuhi orangtuanya.
  4. Estafet pendidikan orangtua terhadap apa yang telah diajarkan di institusi asrama. Para orangtua harusnya melanjutkan dan mengimplementasikan nilai-nilai yang terlah diajarkan institusi berbasis asrama tersebut. Perbedaan mendasar pendidikan berbasis asrama dan non-asrama adalah intensitas studi dan kedisiplinan. Bila orangtua tidak turut serta mengemban laju estafet nilai yang diberikan pendidikan asrama, maka anak akan merasa bahwa pendidikan di rumah adalah kebebasan tak terbatas. Begitupula kebebasan terhadap nilai-nilai yang telah diajarkan pesantren.

Itulah 4 poin pandangan tentang relevansi pendidikan orangtua dan institusi pendidikan berbasis asrama oleh Naylin Najihah seorang dosen dan pemerhati perkembangan pendidikan anak.

Namun sekali lagi bahwa semua ada nilai plus dan minusnya terhadap pilihan sekolah anak berbasis asrama maupun non asrama. Tapi setidaknya Moms & Dads lebih memahami apa yang perlu diperhatikan bila nanti buah hatinya sudah siap untuk sekolah berbasis asrama

Bagikan Informasi Bermanfaat Ini!
Apa Komentar Anda Mengenai "Plus Minus Pendidikan Berbasis Asrama Vs Peran Pendidikan Orang Tua"