Jangan Memaksa Anak Untuk Memeluk Orang Yang Tak Disukainya

Waktu Baca: 3 menitSabtu, 08 Agustus 2020 12:50 WIB
anak-peluk-orang-tua
Sumber: dreamstime

"Ayo, beri kakek dan nenek pelukan."

Kalimat ini kemungkinan sering Moms ucapkan ketika si kecil bertemu dengan orang yang dikasihinya. Tak hanya itu, mungkin saat bertemu paman, bibi, atau bahkan tetangganya pun tanpa sadar kita biasa melakukan perintah yang sama. Selain ingin menunjukkan bahwa anak terlihat sopan, kurang etis rasanya kalau dia tidak memberikan hormat kepada yang usianya lebih tua.

Namun hati jadi gundah bilamana sang buah hati terlihat enggan untuk memeluk orang lain. Sebagai orang tua, secara insting pasti ingin memaksanya untuk menuruti keinginan orang tua. Bahkan ada yang gemas kemudian mencubit si kecil gara-gara tidak mau melaksanakan kehendak ayah atau ibunya.

Padahal pemikiran seperti ini tidak selalu benar. Anak sebaiknya tidak dipaksa untuk memeluk orang yang tidak disukainya, meski termasuk keluarga dekat. Terlebih lagi di kondisi pademi virus corona saat ini, yang sangat rentan akan tertular kepada anak-anak.

Sebuah artikel dari CNN dengan tajuk, I Do Not Own My Child’s Body, atau Tubuh Anakku Bukan Milikku, mengupas tentang kebiasaan salah kaprah yang sering dilakukan oleh orang tua. Menurut sang penulis, Katie Hetter, memaksakan anak untuk melakukan kontak dengan orang-orang di saat ia tidak ingin melakukannya justru membuat mereka rentan terhadap pelaku seksual.

"Kebanyakan pelaku pelecehan seksual adalah orang-orang yang dikenal anak," jelas Hetter.

Menurut Hetter, meskipun rasanya sulit membiarkan anak menolak permintaan kakek atau nenek untuk memeluk atau mencium cucunya, justru orang tua seharusnya mendukung keputusan anaknya. Bagi penulis, memaksa anak untuk memeluk orang lainlah yang melanggar privasi, atau batas kenyamanan sang buah hati.

"Orangtua harus mengajarkan pada anak untuk mendengarkan perasaannya sendiri. Mereka bisa mengatakan kepada kita kapan pun mereka merasa tidak nyaman dengan seseorang," tuturnya.

Bagi Hetter, memberikan pelukan atau ciuman adalah keputusan mutlak si anak. Dia tidak seharusnya diwajibkan memberikannya pada siapa pun.

Hetter juga mengingatkan bahwa memaksa anak untuk memeluk saat dia tidak menginginkannya bisa berdampak pada masa depannya, yaitu memengaruhi hubungan seksual ketika sudah dewasa. Bahkan nantinya mereka punya kesan tubuh harus digunakan untuk menyenangkan orang lain yang dikenalnya.

Ketika anak menolak untuk memberikan pelukan, tugas orang tua yang memberikan penjelasan agar kerabat atau orang lain, tidak salah paham. Hetter memberi contoh dengan mengatakan kepada mereka bahwa Moms bisa memberi kebebasan pada sang anak untuk memutuskan siapa yang disentuhnya. Selain itu, bukankah pelukan datang tanpa paksaan itu lebih menggembirakan?

BACA JUGA:

Selain itu, melakukan high-five (tos tangan), salim (mencium tangan), atau berjabat tangan bisa menjadi alternatif yang lebih tepat dan sopan untuk menyayangi orang lain, tanpa harus melanggar zona nyaman si kecil. So, yuk Moms, bebaskan si kecil memilih siapapun orang yang mau dipeluknya. Jika si kecil happy, Moms pun happy!

Tapi tetap ingat ya, jangan juga dilakukan dikondisi virus covid-19 masih meraja lela seperti saat ini!

Bagikan Informasi Bermanfaat Ini!
Apa Komentar Anda Mengenai "Jangan Memaksa Anak Untuk Memeluk Orang Yang Tak Disukainya"
related post
Aturan Terbaru Syarat Nikah Di KUA 2020-2021, Gratis Lho!

Menikah adalah tindakan sakral antara sepasang kekasih dengan saksi dan diresmikan oleh penghulu. Pemerintah memberikan ... Lanjut Baca